3. Perbedaan Qiraat || Salah Paham Terhadap Alquran


3. Perbedaan QiraatBanyak sekali generasi muda dan aktifis dakwah yang tidak paham konsep perbedaan qiraat dalam Alquran. Dikiranya perbedaan qiraat itu semata karena keringanan kepada suku-suku di Arab zaman Nabi Saw. yang tidak mampu melafazkan ayat tertentu, sehingga diberi keringanan boleh baca Quran sesuai dengan dialek masing-masing kabilah. Benar bahwa perbedaan qiraat yang terkait dengan (mad), al-ima-lah, al-takhfif, al-tashil, a Dan menurut Maliki maknanya adalah bersentuhan yang disertai dengan perasaan nafsu.

l-tahqiq, al-jahr, al-hams dan al-gunnah biasanya tidak berpengaruh pada perubahan makna dan hukum.

Namun jangan lupa bahwa ada banyak perbedaan qiraat yang kemudian berakibat pada perbedaan makna. Lalu perbedaan makna pasti juga berakibat pada perbedaan hukum. Ada beberapa contoh perbedaan qiraat yang berakibat pada perbedaan makna, lalu menjadi perbedaan hukum.


A. Batalkah Sentuhan Pria Wanita?
Dibaca panjang laa-mas-tum ( لامسمت ) jauh berbeda dengan dibaca pendek la-mas-tum ( لمستم ). Padahal dua-duanya bagian dari qiraat yang diakui.

1. Laa-mas-tumIbnu Katsir, Nafi, Ashim, Abu Amr, dan Ibnu Amir membaca laa-mas-tum. Makna laa-mas-tum itu maknanya 'saling menyentuh', suami istri saling sentuh di antara mereka.

2. La-mas-tum
Yang membaca dengan pendek adalah Hamzah dan Kisai. Secara makna, la-mas-tum itu menyentuh, misalnya suami menyentuh istri.

3. Satu Pihak atau Dua PihakAl-Mawardi, Al-Qadhi Husein, dan Al-Mutawalli menjelaskan, bila dibaca panjang laa-mas-tum, maka yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal wudhu'nya. Sebaliknya kalau dibaca pendek, maka yang batal wudhu'nya hanya yang menyentuh, sedangkan yang disentuh tidak batal.


B. Kapan Boleh Jima’ Pasca Haidh?Selama haidh memang tidak boleh jima', sebagaimana dilarang dalam ayat berikut :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah : 222)

Yang jadi masalah, sampai kapan kah larangan ini berlaku? Apakah hingga darah berhenti atau kah hingga mandi janabah? Masalahnya ada dua qiraat yang berbeda, yaitu yath-hur-na dan yath-thah-har-na Bahkan dalam mushaf Ubay, Abdullah dan Anas bin Malik tertulis ya-ta-thah-har-na. Suci dan bersuci ternyata berbeda maknanya. Kalau dibilang sampai suci, berarti asalkan darah sudah tidak keluar, sudah boleh jima'. Tapi kalau dibilang sampai dia bersuci, berarti baru boleh jima' kalau sudah mandi hadtas besar setelah darah berhenti. Abu Hayyan menyebutkan ada empat qira’at:

1. Yath-hur-naQir’at Nafi’, Ibn Katsir, Abu Amr, Ibn Amir dan Hafash membaca dengan tahkfif atau tanpa tasydid dengan sukun pada huruft ha’ ( ـه ). Dhommah pada huruf ha’ ( يطهرن ) berasal dari kata thaharo yang berarti terputus atau terhentinya darah haidh Ini adalah qiraat yang mutawatir.

2. Yath-thah-har-naQira’at Hamzah al-Kisa’iy dan Syu’bah membacanya dengan tasydid tho’ ( ط ) dan ha’ ( ـه ) serta harakat fathah pada keduanya, sehingga dibaca Yaththoharna berasal dari kata yatathoh-harna.
Ini juga merupakan riwayat yang mutawatir.

3. Ya-ta-thoh-har-na
Qira’at Ubay ibn Ka’ab dan Abdullah ibn Mas’ud membacanya ya-ta-thoh-har-na ( ّيَتَطهََرْن ). Qiraat ini termasuk syadz.

4. Ya-ta-thoh-har-na
Anas ibn Malik membaca ya-ta-thoh-har-na. Qiraat ini termasuk syadz

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "3. Perbedaan Qiraat || Salah Paham Terhadap Alquran"

Post a Comment